bannerchingtu

SESUATU YANG BESAR TIDAK MUNGKIN DICAPAI TANPA SEMANGAT YANG BESAR (Anonymous) HAL YANG PALING MENGERIKAN DI DUNIA INI IALAH KEADILAN YANG DIPISAHKAN DARI CINTA KASIH (Francois Mauriac) PADA SETIAP KEBAIKAN TERLETAK SEGALA BENTUK KEBIJAKSANAAN (Euripides) MENGAJAR SAMA DENGAN BELAJAR (Pepatah Jepang) ORANG LAIN AKAN MENGAKUI KEMAMPUANMU SETELAH KAMU MEMBUKTIKANNYA (Bob Edwarda) PANDAI MENUTUP MULUT ADALAH CERMIN KEPANDAIAN SESEORANG (Schopenhaver) ILMU PENGETAHUAN PADA MASA MUDA AKAN MEMBUAT ORANG MENJADI BIJAKSANA PADA HATI TUA (Anonymous) BADAI MEMBUAT PEPOHONAN MEMPERDALAM AKARNYA (Laude McDonald) SUMBER KEKUATAN BARU BUKANLAH UANG YANG BERADA DALAM GENGGAMAN TANGAN BEBERAPA ORANG, NAMUN INFORMASI DI TANGAN ORANG BANYAK (John Naisbitt) THE MORE YOU SWEAT IN TRAINING, THE LESS YOU BLEED IN BATTLE (Armed Forces Motto)  SEORANG JUARA IALAH YANG MAMPU BANGUN KETIKA IA TAK MAMPU (Jack Dempsey KEGEMBIRAAN AKAN DATANG SETELAH KESUSAHAN (Guillaume Apollina'ire KEJUJURAN ADALAH BATU PENJURU DARI SEGALA KESUKSESAN. PENGAKUAN ADALAH MOTIVASI TERKUAT (May Kay Ash KEPEMIMPINAN ADALAH ANDA SENDIRI DAN APA YANG ANDA LAKUKAN (Frederick Smith)  RAJIN ADALAH OBAT MUJARAB (Al-Ghazali KEINDAHAN TERDAPAT DALAM KEJUJURAN (Schiller THOSE WHO ARE AFRAID TO FALL, WILL NEVER FLY (Anonymous

waisak2024

Perjalanan Roh

KEMATIAN


Bila kematian tiba,

Tak ada yang kubawa serta,

Harta, Kemewahan bukan lagi milikku, Kedudukan, nama dan kekuasaan, Semua t’lah sirna.

Siapa mengiringi perjalananku? Lenyap sudah tali ikatan Teman, Sahabat, keluarga tercinta.

Hanya tinggal kenangan ......

Kini kuteringat,

48 janji besar Amitabha Buddha, Tekad mulia menolong semua makhluk, Bebas dari derita,

Untuk lahir di Tanah Suci Surga Sukhavati.

Kepada-Nya aku berlindung, Sepenuh hati ku berseru:

Namo Oh Mee Toh Fo (berulang-ulang)


                                 - Y.A. Bhiksu Dutavira -

 

Prakata
Salam bahagia dalam Dharma Namo Oh Mee Toh Fo,

Terpujilah Hyang Tathagata, Tuhan Yang Maha Esa sumber kesucian, para Buddha dan Bodhisattva. Terpujilah Oh Mee Toh 'Fo yang telah memberitahukan kita, jalan yang mudah menuju Tanah Suci Surga Sukhavati.

Agama Buddha mengajarkan, bahwa kematian bukanlah akhir dari segalanya. Kematian hanyalah satu fase peralihan antara hidup yang sekarang dengan kehidupan di alam tumimbal lahir yang baru.

Untuk itu, kami menerbitkan buku ini, yang isinya antara lain menguraikan bagaimana perjalanan roh orang biasa yang telah meninggal dunia maupun perjalanan roh orang yang dalam kehidupannya penuh keyakinan dan bergembira Nian Fo (Buddha Smrti).

Anda tidak perlu segera percaya pada isi buku ini, namun alangkah baiknya, jika dibaca dengan cermat dan lengkap berulang kali. Karena, inilah satu-satunya cara untuk mengerti perihal kematian dan menolong diri sendiri maupun orang lain, sehingga terlahir di Tanah Suci Surga Sukhavati atau minimal kehidupan yang akan datang menjadi lebih baik dan beruntung daripada saat sekarang ini.

Kami anjurkan, agar dalam kehidupan ini jangan sia-siakan waktu, tekunlah Nian Fo (Buddha Smrti), agar mempunyai kekuatan Buddha ('Buddha Bala) di dalam roh (alayavijnana), yang dapat digunakan untuk menolong diri sendiri dan menolong mereka yang sedang lemah, sakit, menjelang ajal maupun yang telah meninggal dunia. Tentu untuk mencapai hal tersebut di atas, harus melalui pembinaan/ training khusus perjalanan roh menuju Tanah Suci Surga Sukhavati di bawah bimbingan guru yang tepat.

Isi buku ini merupakan bagian yang penting dari buku Perjalanan Kematian terbitan kami. Kami anjurkan bagi anda yang tertarik untuk mengetahui kelanjutannya, silahkan membaca . Dan kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Aries Wibowo yang telah membantu memberikan sumbangan pikiran dan terjemahannya sehingga terbitnya buku ini.

 

BAB I PROSES KEMATIAN

Kematian merupakan hal yang tak mungkin dielakkan, bahkan juga bagi para nabi termasuk Pangeran Siddharta Gautama.

Tanggapan terhadap kematian umumnya adalah takut yang berkembang lebih lanjut menjadi tabu untuk dibicarakan, namun kematian adalah nyata dan kita harus mengetahui/ memahaminya sebagai bagian yang tidak terlepas dari hidup ini.

Hakekat kematian adalah terlepasnya indera ke delapan, jati diri kita sendiri (umum dikenal sebagai roh) dari indera-indera lainnya termasuk: mata, telinga, hidung, lidah, badan, pikiran dan hati. Indera-indera ini terdiri dari 4 unsur dasar, yakni: tanah, air, api dan angin. Proses kematian terdiri dari 3 tahapan:

I. Pra pelepasan: saat akhir menjelang ajal/mati.

II. Saat pelepasan roh: tibanya ajal atau terjadinya kematian.

III. Pasca pelepasan: kemana indera ke delapan/ roh (alayavijnana) akan pergi setelah pelepasan.

Mati itu menakutkan karena ada rasa sakit dan derita pada tiga tahap pelepasan tersebut di atas.

1.1. Pra pelepasan:

Derita yang akan dialami pada tahap ini adalah derita yang dialami dari perawatan akhir, misalnya: operasi, amputasi, chemoterapi yang menyebabkan rasa sakit yang luar biasa, sehingga memerlukan morfin untuk menahan rasa sakit.

1.2. Saat pelepasan roh:

Terurainya empat unsur dasar, yaitu: tanah, air, api dan angin.

- Saat unsur tanah terurai akan terasa tertindih oleh beban yang luar biasa beratnya, sehingga sangat sakit dan menderita. Pada saat ini otot orang tersebut terlihat bergetar, tangan dan kakinya menjadi kaku/ kejang.

- Saat unsur air terurai badan medio merasa kedinginan, yang merasuk hingga ke seluruh tubuh, bahkan hingga ke tulang sum-sum, meski ada pemanas ruangan. Wajah terlihat pucat dan napas tersenggal-senggal.

- Saat unsur api terurai badan medio mendadak merasa kepanasan, seperti dibakar atau dipanggang, sehingga tubuh menjadi kaku, wajah merah padam, napas yang dihembuskan lebih banyak daripada yang masuk.

- Saat unsur angin terurai badan medio merasa ditiup angin kencang sampai tubuh hancur lebur, yang akan terasa sangat sakit pada proses penghancuran tubuh.

1.3. Pasca pelepasan roh:

Setelah kematian terjadi, melalui proses kedua, indera ke delapan/ roh masuk ke dalam alam medio, rata-rata 49 hari. Perlu diketahui satu hari di alam medio adalah 3 1/2 hari kehidupan di dunia ini, oleh karena itu sembahyang kematian dilakukan setiap tujuh hari.

Indera ke delapan yang terlepas dari jasad melalui fase pelepasan akan merasa sangat lelah dan tertidur satu hari, yang berarti 3 1/2 hari waktu dunia. Itulah sebabnya orang sering mengatakan roh akan pulang ke rumah setelah 3 hari. Tiba di rumah roh belum yakin kalau dia telah berada dalam alam medio, dia mengira masih hidup, maka dicobalah berkomunikasi dengan para kerabat dan keluarganya, namun setelah mencoba puluhan, bahkan ratusan kali tidak juga berhasil, maka sadarlah dia bahwa sesungguhnya dia telah meninggal dunia.

 

BAB 2 PROSES PERJALANAN ROH ORANG BIASA

Setelah sadar bahwa dirinya telah meninggal dunia, sesuai dengan karma yang dibuat selama hidup, dia akan tumimbal lahir ke salah satu dari enam alam, yakni: alam dewa, alam manusia, alam asura, alam binatang, alam setan gentayangan dan alam neraka. Dalam aliran Tantra Tanah Suci Surga Sukhavati dilukiskan dengan jelas gejala keadaan yang akan dihadapi sebelum masuk ke alam tersebut.

Sekali lagi terhadap pembahasan ini anda tidak perlu segera percaya, namun cobalah dibaca berulang kali hingga mengerti. Karena, bila nanti anda tiba di alam medio, daya ingat akan menjadi 9 kali dari biasanya, hingga apa yang pernah anda baca sekarang dapat teringat kembali, yang selanjutnya Anda dapat menggunakan anjuran dalam tulisan ini, agar dapat terhindar dari proses tumimbal lahir di alam samsara.

2.1. Alam Dewa.

Setelah fase I, karena karma-karma baik anda dalam kehidupan yang lalu, maka anda sanggup melampaui fase medio, tanpa melalui fase derita tertindih beban yang sangat berat sampai fase terakhir tertiup angin yang sangat kencang.

Menjelang ajal anda akan melihat warna putih yang sejuk, mendengar alunan musik merdu surgawi, dan sambutan para dewa dewi yang begitu agung, maka dengan penuh senyuman, Anda menghampirinya dan terlahir di alam Dewa, meskipun pada saat itu disamping Anda ada para kerabat dan keluarga tengah menangis dengan sedih.

2.2. Alam Manusia 2.

Setelah mengalami fase pelepasan dan menyadari kematian, saat itu pula dia akan berada di lapangan terbuka dengan hujan dan angin yang sangat besar, insting-nya tentu berusaha mencari tempat untuk berteduh. 

Di kala cetana (niat/ kemauan) berteduh itu timbul, segera muncul di hadapannya istana megah. Bila dia masuk ke dalamnya, maka terlahirlah dia sebagai anak bangsawan atau anak orang kaya. Kondisi ini didapat, jika amal bakti yang dilakukan selama hidupnya cukup banyak. Semakin kecil amal baktinya, bangunan yang muncul di hadapannya semakin jelek dan kecil, sampai akhirnya tidak ada lagi bangunan, yang terlihat hanya dinding dan terpaksa dihampiri pula. Ketika menghampirinya, saat itu pula terlahirlah dia sebagai pengemis, yang bila tidak disantuni tidak sanggup mencari makan sendiri. 

2.3. Alam Asura

Alam ini penuh dengan peperangan. Kaum prianya sangat sakti, tapi senang mencari gara-gara untuk berkelahi. Kaum wanitanya sangat cantik, karena kecantikannya mereka selalu 

menggoda, sehingga penghuni alam ini tidak sempat membina diri. 

Manusia yang selama hidupnya selalu ingin menang sendiri dan memaksakan kehendaknya, pada fase medio akan berhadapan dengan hutan rimba yang indah. Di dalamnya terlihat dua roda api yang saling berputar. Tampak sangat indah. Jika timbul rasa senang dan memasuki hutan rimba itu, maka terjatuh ke alam asura. 

2.4. Alam Binatang

Indra ke delapan/ roh yang tiba pada fase medio selalu bingung dan takut. Bila diberikan sesajian berupa ayam atau binatang yang berjiwa, niscaya akan mempercepat proses badan medio masuk ke alam binatang. Oleh karena itu, hindarkanlah sesajian sembahyang yang bernyawa dan gunakan hanya sesajian vegetarian.

Saat sadar akan kematian, badan medio terasa ringan bagai bulu yang terhempas ke segala arah tertiup angin. Tampak cahaya sangat terang disertai suara gemuruh yang sangat mengejutkan dan menakutkan, disusul oleh banyaknya setan galak bersenjata serta binatang buas mengejar-ngejar, tampak pula gunung runtuh, lautan bergolak, api besar menyambar. Situasi ini menyebabkan badan medio sangat ketakutan dan mencoba kabur, berteriak minta tolong, namun sia-sia belaka. Akhirnya terdesak pada tiga jurang yang berwarna hitam, putih dan merah.

Saat terjepit tampak ada goa, dengan senangnya dia masuk ke goa tersebut dan terlahirlah sebagai binatang. Atau jika seseorang pada masa hidupnya gemar berzinah, pada saat tiba di alam medio dia akan melihat pria dan wanita sedang bermesraan, segera timbul napsu birahinya dan ingin bergabung. Jika dia menghampiri, pastilah dia akan kehilangan badan manusia dan akan terlahir dalam alam binatang.

2.5. Alam Setan Gentayangan

Mereka yang masuk ke alam ini disebabkan karena pelit dan lobha yang keterlaluan semasa hidupnya. Badan medio yang akan masuk ke alam ini akan melihat adanya gurun pasir atau lubang tanah yang tidak dalam, hanya rumput dan akar kering yang ada. Begitu dia menghampiri gurun pasir atau lubang itu, badan medio akan terjatuh di alam setan gentayangan.

2.6. Alam Neraka

Badan medio akan menemukan kondisi-kondisi sebagai berikut:

- Ada yang mendengar suara lagu yang sangat syahdu dan dia mencoba mencari sumber suara/ lagu tersebut, hingga akhirnya tiba di dalam sebuah rumah batu atau goa yang berwarna hitam atau putih. Selanjutnya dia masuk dalam terowongan gelap di bawah tanah, sehingga terjatuhlah dia dalam alam neraka. 

Atau ada pula yang merasakan hujan dan angin, dan tiba- tiba melihat api unggun. Karena senangnya, api tersebut dihampiri, maka jatuhlah dia ke dalam neraka api.

Atau sebaliknya ada yang merasakan badannya sangat panas, dan tiba-tiba bertemu angin dingin, diapun segera menghampiri, maka jatuhlah dia ke dalam neraka es. 

Atau tampak kerabat, saudara yang semasa hidupnya sudah meninggal, memanggilnya. Kemudian dengan senang hati dia menghampirinya, maka terjatuhlah dia ke dalam neraka. 

 

BAB 3 PETUNJUK PERJALANAN ROH MENURUT KEYAKINAN AGAMA BUDDHA MAHAYANA TANAH SUCI

Hyang Buddha bersabda, “Perjalanan hidup manusia menderita maupun gembira adalah hasil perbuatannya sendiri, yang baik maupun yang buruk, dan manusia mempunyai kemampuan untuk menentukan masa depannya”. Yang dimaksud dengan masa depan adalah saat menghadapi proses kematian (fase I/ pra pelepasan dan fase II/ saat pelepasan roh) maupun proses tumimbal lahir (fase III/ pasca pelepasan) yang telah diuraikan dimuka.

Orang yang di usia tuanya ingin tidak menderita saat menjalankan proses kematian, yaitu saat proses penghancuran jasmani dan roh badan medio ke luar dari tubuh, maka dia harus mau membina diri. Dengan membina diri, dia akan memiliki kekuatan dan kemampuan untuk menolong dirinya sendiri untuk tidak menderita, maupun membantu orang lain yang berjodoh dengannya, agar berkurang penderitaannya maupun tumimbal lahir menuju Tanah Suci Surga Sukhavati atau minimal dilahirkan di alam yang lebih baik.

Di dalam kitab suci Amitabha Sutra, Hyang Buddha bersabda:

Sariputra, apa sebabnya alam tersebut dinamakan Surga Sukhavati?. Karena para makhluk di alam tersebut tiada penderitaan, yang ada hanya merasakan berbagai kegembiraan dan kebahagiaan, oleh karena itulah alam tersebut dinamakan Tanah Suci Surga Sukhavati. (ayat 5)

Semua makhluk yang mendengar berita ini seyogyanya membangkitkan tekad yang bulat untuk dilahirkan di negeri tersebut (Tanah Suci Surga Sukhavati). Mengapa dikatakan demikian? Karena mereka yang terlahir di alam tersebut, dapat berkumpul dengan para mahkluk suci dan mulia. Orang yang dapat terlahir di negeri Buddha tersebut tidak boleh kekurangan sifat kebajikan yang mengakar, selalu menanam sebab dan jodoh keberuntungan serta moral yang indah (ayat 22).

Bila ada pria budiman (yang berjiwa besar) atau wanita berbudi luhur, setelah mendengar ucapan nama Oh Mee Toh Fo (Amitabha Buddha), menyatukan jiwa dalam nama-Nya secara terus menerus, selama satu hari, dua hari, tiga hari, empat hari, lima hari, enam hari, tujuh hari, jiwanya menyatu dan tidak galau, maka saat menjelang ajalnya Oh Mee Toh Fo (Amitabha Buddha) dan para orang suci akan muncul di hadapannya. Disaat meninggal dunia, jiwanya tidak kacau (pikiran tidak terbalik), sehingga segera dapat terlahir di Tanah Suci Amitabha Buddha/ Tanah Suci Surga Sukhavati (ayat 23).

Khusus bagi umat Buddha, jalan menghindari segala derita, baik menjelang maupun saat meninggal dunia, hingga lebih lanjut menuju alam tumimbal lahir, dapat dicapai dengan 2 cara yaitu:

1. DENGAN KEKUATAN DIRI SENDIRI (ZHE LI)

Untuk dapat melewati derita fase I dan II, maka orang harus membina diri dengan melaksanakan: xiu san fu, xing liu du , wu nian men, qing tu ren.

- Mengumpulkan tiga keberuntungan/xiu san fu.

Yang dimaksud dengan xiu san fu yaitu:

- Berbakti dan menghormat kepada ayah, ibu dan guru/ xiao jing fu mu shi zhang.

- Menerima diksa trisarana dan Pancasila/Shou san gui wu jie.

- Bangkitkan maha bodhicitta dan yakin secara mendalam kepada Hukum Karma/ fa da pu ti xin, shen xingyingguo bao ying.

- Melaksanakan sad paramita/ xing liu du.

yaitu melaksanakan sadparamita di dalam kehidupan sehari-hari, yang terdiri dari: dana paramita, sila paramita, ksanti paramita, virya paramita, samadhi paramita, prajna paramita,

- Membina diri di dalam Lima Pintu Penghayatan Dharma

Memasuki Tanah Suci Surga Sukhavati/ wu nian men, yaitu:

1. Pintu Menghormat dan Sembahyang

2. Pintu Memuliakan nama Buddha

3. Pintu Bertekad dilahirkan di Surga Sukhavati

4. Pintu selalu introspeksi perbuatan sendiri apakah sudah hidup dalam jalan ke-Buddhaan, bila tidak ia harus mau mengoreksi/ memperbaikinya. Bangkitkan lagi tekad ingin dilahirkan di Tanah Suci Surga Sukhavati.

5. Pintu Penyaluran jasa, yaitu membangkitkan rasa menyesal dan bertobat serta mau membagi kebahagiaan/ berkahnya kepada yang lain.

- Menjadi manusia Tanah Suci, bahagia dunia dan akhirat/ QING TU REN .

Dengan melaksanakan hal tersebut di atas, maka anda adalah penghuni Tanah Suci Surga Sukhavati yang akan memperoleh keberuntungan semasa hidup dan meninggal dunia dilahirkan sebagai penduduk Tanah Suci Surga Sukhavati.

Bila hal tersebut di atas dijalankan dengan baik, maka fase I dan II dapat dilalui dengan mudah, tanpa mengalami penderitaaan. Hyang Buddha beserta makhluk suci lainnya dengan tangan memegang panggung emas datang menjemput, seketika itu juga terlahirlah di Tanah Suci Surga Sukhavati.

Akan tetapi bagi orang yang menjalankan hal tersebut di atas yang belum sempurna, saat menjelang meninggal dunia mungkin akan mengalami proses penderitaan dan sakit, namun tetap dapat dilahirkan di Tanah Suci Surga Sukhavati.

2. Membantu orang yang berjodoh (zhu li/ zhu nian)

Di dalam ayat kitab suci Yi Xin Gui Ming/ Renungan dan Prasetya Maha Bodhisattva Yang Penuh Welas Asih dikatakan, bahwa orang yang mempunyai kekuatan Buddha {Buddha Bala), sebagai hasil dari latihan tersebut di atas, dia dapat memberikan motivasi atau membantu orang lain yang membutuhkan maupun almarhum/ ah, hingga tergugah batinnya (badan medio/rohnya) untuk ikut Nian Fo Namo Oh Mee Toh Fo. Dengan demikian almarhum/ah dapat tumimbal lahir di Tanah Suci Surga Sukhavati atau di alam yang lebih baik.

BAB 4 KESIMPULAN

Orang yang penuh keyakinan dan gembira membina diri di dalam ajaran Agama Buddha Mahayana Tanah Suci Surga Sukhavati, tidak hanya di dalam kehidupan sehari-hari dia dapat bertambah beruntung, bahkan saat meninggal dunia tidak akan mengalami proses penderitaan yang berkepanjangan dan pasti dapat dilahirkan di Tanah Suci Surga Sukhavati, menjadi penduduk surga tersebut, yang disebut lian hua guo li ren.

Sekedar untuk diketahui, setelah meninggal dunia badan menjadi dingin dan kaku. Akan tetapi, pada saat roh ke luar dari badan jasmani, bagian tubuh yang menjadi tempat ke luarnya roh tersebut menjadi panas. Dari bagian tubuh yang panas ini dapat diketahui, di alam mana almarhum/ah tumimbal lahir, jika di bagian:

1. Ubun-ubun : terlahir di alam suci

2. Mata : terlahir di surga/ alam dewa

3. Hati : terlahir di alam manusia

4. Perut: terlahir di alam binatang

5. Dengkul : terlahir di alam setan gentayangan

6. Telapak kaki : terlahir di alam neraka

Sekali lagi kami ingatkan Anda tidak perlu segera percaya pada isi buku ini, namun alangkah baiknya, jika dibaca dengan cermat dan lengkap berulang kali. Karena, inilah satu-satunya cara untuk mengerti perihal kematian dan menolong diri sendiri maupun orang lain, sehingga terlahir di Tanah Suci Surga Sukhavati atau minimal kehidupan yang akan datang menjadi lebih baik dan beruntung daripada saat sekarang ini.

Untuk itu, tetaplah Nian Fo (Buddha Smrti) dan jangan hiraukan hal-hal apapun yang dijumpai:

1. Dalam alam dewa:

Berhadapan dengan warna putih yang sejuk, alunan musik surgawi, dijemput peri-peri cantik; jangan hiraukan semua itu segera ucapkan NAMO OH MEE TOH FO.

2. Dalam alam manusia:

Berhadapan dengan tempat berteduh, baik yang megah maupun yang kecil; jangan hiraukan semua itu, segera ucapkan: NAMO OH MEE TOH FO.

3. Dalam alam asura:

Berhadapan dengan hutan rimba yang di dalamnya terlihat dua roda api yang saling berputar; jangan hiraukan semua itu, segera ucapkan NAMO OH MEE TOH FO.

4. Dalam alam binatang:

Berhadapan dengan cahaya yang sangat terang disertai suara gemuruh dan kejaran setan galak dan binatang buas yang menakutkan, atau berhadapan dengan pria dan wanita yang sedang bermesraan; jangan dihiraukan, segera ucapkan NAMO OH MEE TOH FO.

5. Dalam alam setan gentayangan:

Berhadapan dengan gurun pasir atau lubang tanah yang tidak dalam hanya ada rumput dan akar kering saja; jangan hiraukan semua itu, segera ucapkan NAMO OH MEE TOH FO.

6. Dalam alam neraka:

Berhadapan dengan lagu yang sangat syahdu atau merasakan hujan dan angin yang sangat dingin; atau merasakan badan sangat panas; atau berhadapan dengan kerabat, saudara yang semasa hidupnya sudah meninggal dunia, dan saat itu memanggilnya; jangan hiraukan semua itu, segera ucapkan NAMO OH MEE TOH FO.

Berkat tekad dan kekuatan gaib Maha Penolong Oh Mee Toh Fo (Amitabha Buddha), maka Oh Mee Toh Fo beserta makhluk suci lainnya datang menjemput badan medio almarhum/ ah menuju Tanah Suci Surga Sukhavati.

Untuk itu, dianjurkan agar setiap orang yang ingin dilahirkan di Tanah Suci Surga Sukhavati, setiap hari dengan penuh kegembiraan dan bersungguh-sungguh hati Nian Fo (Buddha Smrti) dan membina badan roh/ alayavijnana (ba she) - nya ke jalan Tanah Suci Surga Sukhavati (perlu dilatih secara khusus), serta membaca ayat suci Yi xin gui ming dan wang shen zhou (lihat 5.1. lampiran 1 dan 5.3. lampiran 3).

Kehidupan di dunia ini selalu ada 2 tenaga yang berperan:

1. Yang bersumber dari kekuatan diri sendiri.

2. Yang bersumber dari orang lain.

Orang yang senang Nian Fo ('Buddha Smrti) akan mempunyai kekuatan di dalam dirinya. Kekuatan ini selain dapat digunakan untuk menolong dirinya sendiri/ zhe li, dapat pula digunakan untuk menolong orang yang sakit, yang lemah, yang menjelang ajal, maupun yang telah meninggal dunia/ zhu li.

Oleh karena itu, bila anda sayang dan ingin membalas budi kepada orang tua maupun teman-teman yang membutuhkan uluran tangan anda untuk dilahirkan di Tanah Suci Surga Sukhavati maupun di alam yang lebih baik, kami sarankan untuk lebih giatlah membina diri dengan Nian Fo, sehingga saat diperlukan tenaga anda kuat untuk mengarahkan maupun mendukung agar orang yang berjodoh dengan anda, yang lemah, yang sakit, yang sedang proses meninggal dunia maupun yang telah meninggal dunia dapat terlahir di Tanah Suci Surga Sukhavati. Untuk itu, tekunlah Nian Fo dengan penuh kegembiraan.

Bila kita menolong orang yang sakit, yang lemah, yang menjelang ajal (orang yang masih hidup), setelah Nian Fo ditutup dengan ayat suci yi xin gui ming dan wang shen zhou (lihat 5.1. lampiran 1 dan 5.3. lampiran 3). Sedangkan bila menolong orang yang telah meninggal dunia, setelah nian Fo (Buddha Smrti'j, ditutup dengan membaca Gatha Prasetya Maha Bodhsattva Yang Penuh Welas Asih/ shi fang san shi Fo dan wang shen zhou (lihat 5.2. lampiran 2 dan 5.3. lampiran 3).

Jangan Anda percaya begitu saja petunjuk buku ini, melainkan jalankanlah hal tersebut selama 100 hari atau 1.000 hari dengan teknik bimbingan yang benar, maka nanti anda tentu akan merasakan suatu perubahan yang nyata di dalam diri sendiri, sehingga:

1. Dikala menjalankan hidup dan kehidupan ini, disaat mengambil keputusan dapat memutuskan yang terbaik, sehingga tidak menimbulkan masalah baru yang lebih buruk.

2. Sebagai manusia biasa setiap saat selalu muncul kemauan yang baru. Setelah melalui proses latihan tersebut diatas dengan benar selama 100 hari atau 1.000 hari, maka kemauan baru anda selalu dapat menyebabkan keberuntungan yang baru, tidak menyebabkan anda menderita lagi.

3. Setiap insan di dunia ini mempunyai waktu yang sama, yaitu sehari 24 jam, dapat menjadi sakit, tua dan meninggal dunia. Melalui bimbingan teknik Nian Fo (Buddha Smrti) yang benar, kami percaya waktu anda dapat digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat, sehingga hidup di dunia ini tidak sia-sia, bahkan dapat mengajak orang yang berjodoh yang anda sayangi untuk dapat bersama-sama dilahirkan di Tanah Suci Surga Sukhavati.


BAB 5 LAMPIRAN

5.1. Lampiran 1:

Renungan dan Prasetya Maha Bodhisattva Yang Penuh Welas Asih/ Y i Xin Gui Ming (untuk bebas dari tumimbal lahir dan atas kekuatan diri sendiri)

Dengan sepenuh hati aku berlindung kepada Amitabha Buddha (Oh Mee Toh Fo), dan bertekad menuju Surga Sukhavati, Amitabha Buddha (Oh Mee Toh Fo) pancarkanlah Kesucian Cahaya-Mu, berkatilah aku, Oh Buddha, Engkau yang Maha Welas Asih terimalah diriku. Kini aku dengan sungguh-sungguh hati ingat memuliakan nama-Mu, melaksanakan hidup di Jalan Bodhisattva untuk dilahirkan di Tanah Suci. Oh Buddha .........,

Engkau berjanji:

Jika para makhluk yang ingin dilahirkan di negara-Ku, dengan tekad penuh keyakinan, bersemangat, serta bergembira mengalunkan pujian nama-Ku sebanyak sepuluh kali (selalu mengingat diri-Ku dengan sepenuh hati), bila tidak terlahir di Surga-Ku, aku tidak akan menjadi Buddha.

Dengan sebab dan jodoh Nian Fo (Buddha Smrti) ini, aku akan dapat menyatu di dalam Lautan Tekad Tathagata yang Maha Besar. Berkat kekuatan welas asih Buddha, maka lenyaplah semua penderitaan dan dosa-dosaku, bertambahlah akar kebajikanku. Jika saat menjelang ajal diri sadar akan tiba waktunya, jasmani tidak sakit dan tiada penderitaan, batin tidak melekat, pikiran dan perasaan tidak galau, bagaikan memasuki lautan ketenangan Dhyana (meditasi/ samadhi). Para Buddha beserta makhluk suci lainnya dengan tangan memegang panggung emas (bunga teratai emas) datang menjemput-Ku (bila dibaca untuk diri sendiri)/ dia atau nama orang yang didoakan (bila digunakan untuk mendoakan orangyang sakit,yang lemah,yang menjelang ajal), seketika itu juga aku terlahir di Tanah Suci Surga Sukhavati.

Bunga teratai mekar aku menghadap Hyang Buddha, dapat segera mendengar dan menghayati jalan ke-Buddha-an, terbukalah kebijaksanaan Buddha untuk menolong para makhluk dalam menyempurnakan tekad kebodhian.

Para Buddha di Sepuluh Penjuru dalam Tiga Jaman, Para Bodhisattva Mahasattva, Maha Prajna Paramita.


5.2. Lampiran 2:
Gatha Prasetya Maha Bodhisattva Yang Penuh Welas Asih/ Shi Fang San Shi Fo (dapat membantu orang yang berjodoh untuk dilahirkan di Tanah Suci Surga Sukhavati atau di alam yang lebih baik lagi) 

Para Buddha di Sepuluh Penjuru dalam Tiga Jaman, Amitabha Buddha (Oh Mee Toh Fo) yang paling utama, Bunga teratai bertingkat sembilan dapat menolong para makhluk, wibawa, daya kemampuan dan pahala-Nya tiada terbatas.

Sekarang ..... (nama alm./ ah) berlindung kepada Buddha,

Dharma dan Sangha, menyesal dan bertobat atas 3 karma buruk. Semua kebaikan dan keberuntungan yang diperoleh, dengan hati yang tulus dan iklas disalurkan kepada orang yang ikut ber-Buddha Smrti. Semoga kontak batin dapat muncul kapan saja.

Menjelang ajal gambaran kondisi Tanah Suci Surga Sukhavati jelas terbentang di depan mata.

Penglihatan dan pendengaran semuanya serba meningkat dan maju, hingga bersama-sama terlahir di Negeri Sukhavati.

Melihat Buddha, terbebaslah diri dari lahir dan mati. Sebagaimana Buddha menyelamatkan semua makhluk hidup, terputuslah segala klesa yang tiada ujung, terbinalah diri dalam Dharma yang tiada tara, membangkitkan prasetya untuk menolong semua makhluk, agar semuanya mencapai jalan ke-Buddha-an.

Ruang yang kosong ada akhirnya, prasetya-Ku tiada habisnya, dengan semua makhluk yang berperasaan atau pun yang tidak berperasaan, bersama-sama mencapai Kesempurnaan Benih Kebijaksanaan.

Para Buddha di sepuluh penjuru dalam tiga jaman, Para Bodhisattva Mahasattva, Maha Prajna Paramita.


5.3. Lampiran 3:
SUKHAVATIVYUHA DHARANi/ Wang Shen Zhou

(Dharani ini mempunyai kekuatan mencabut semua karma buruk untuk dilahirkan di Tanah Suci Surga Sukhavati)

Namo amitabhaja tathagataya. Tadyatha: Amite amitobhabe. Amita sambhabe. Amita bikrana tamkare. Amita bikranata. Amita gagana kritikare.Svaha.

Manfaatnya:

Sukhavativyuha mantra:

Dharani ini bermanfaat untuk mencabut semua akar karma buruk, agar dilahirkan di Tanah Suci Surga Sukhavati. Umat yang tekun membaca Dharani ini sebanyak 21 x 6 di pagi hari serta 21 x 6 di malam hari, akan selalu dilindungi oleh Buddha Amitabha dan para Bodhisattva pengiring-Nya serta setelah meninggal dunia terlahir di Tanah Suci Surga Sukhavati. Umat yang tekun membaca genap 3.000.000 kali akan dapat melihat visual Buddha Amitabha pada masa hidup sekarang ini.

 

KATA-KATA BIJAK


Orang bijaksana menghormati dan menghargai serta belajar kelebihan dan kebaikan guru maupun orang tuanya, tidak memikirkan dan membicarakan kejelekan dan kekurangan guru maupun orang tuanya.

 Orang bodoh tidak menghormati dan tidak menghargai kelebihan guru maupun orang tuanya, selalu melihat dan membicarakan kejelekan dan kekurangan guru maupun orang tuanya.

 Orang bodoh menunggu waktu dan menyia-nyiakan hidup yang sangat berharga ini. Orang pintar menciptakan waktu hanya untuk kepentingan dirinya. Orang bijaksana menggunakan waktu ke arah yang besar dan bermanfaat dalam perjalanan hidupnya, yaitu mempersiapkan diri untuk hari tuanya tidak menderita dan meninggal dunia dilahirkan di Tanah Suci Surga Sukhavati.

 

- Y.A. Bhiksu Dutavira -

 

 

Comments   

 
0 #8 profile 2018-10-31 14:20
Need cheap hosting? Try webhosting1st, just $10 for an year.

Quote
 
 
-1 #7 suprapto 2018-04-22 11:06
agama buddha terpecah hanya karena tentang "jiwa dan Tuhan"
Quote
 
 
-2 #6 David Senjaya 2018-02-03 09:51
Sepertinya penulis memahami Buddhism dengan cara yang baik tetapi tidak benar. Jelas sekali disutra manapun dituliskan bahwa pandangan ada ROH ini adalah PANDANGAN KELIRU dan celakanya Bhikkhu ini mengajarkan kekeliruan ini kepada umat. Sangat memprihatinkan.
Quote
 
 
0 #5 jam tangan pria 2018-01-22 14:11
Permisi. Tidak sengaja saya mampir ke blog anda, setelah saya baca-baca ternyata isi-isinya cukup menarik dan banyak postingan yahg sangat
banyak manfaatnya untuk saya. Numpang izin membookmark dan sharing blog ini ke
sosmed saya ya sekaligus biar blog ini tambah banyak pengunjungnya.

Harapan saya agar di perbaharui terus yaa blognya.Tertima Kasih, Salam
Quote
 
 
-1 #4 David Senjaya 2017-04-10 15:53
Jadi, kalau mencapai Nibbana apa yang panas ya ? Ada - ada saja !
Quote
 
 
0 #3 Sunari Wirohardjo 2017-01-21 02:11
Tanya:
Namo Oh Mee Toh Fo == selama ini ditulis dengan Namo A-mi-to-fo, bagaimana penulisan dan pengucapan yang benar?
Terima kasih,
Quote
 
 
0 #2 Aseng 2016-11-28 12:46
Saya tertarik membaca artikel yang Anda tulis..sebenarn ya saya mengalami hal duka,saya tidak sempat mengecek panas roh keluar Dr mana,saya berharap almarhum di tempatkan di alam sukhavati,saya juga tidak sempat menyuruh almarhum menyebutkan namo oh mee toh fo karena panik mendapat kondisi seperti itu,bagaimana cara untuk membantu almarhum agar di tempatkan di alam sukhavati selain berdana dan fangsen,anak ingin berbakti...saya ingin tanya kadang saya mencium aroma hio/dupa...apak ah artinya..mohon bantuannya,
Quote
 
 
0 #1 fifi 2016-11-17 15:51
Oh mi tuo fo
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh