bannerchingtu

SESUATU YANG BESAR TIDAK MUNGKIN DICAPAI TANPA SEMANGAT YANG BESAR (Anonymous) HAL YANG PALING MENGERIKAN DI DUNIA INI IALAH KEADILAN YANG DIPISAHKAN DARI CINTA KASIH (Francois Mauriac) PADA SETIAP KEBAIKAN TERLETAK SEGALA BENTUK KEBIJAKSANAAN (Euripides) MENGAJAR SAMA DENGAN BELAJAR (Pepatah Jepang) ORANG LAIN AKAN MENGAKUI KEMAMPUANMU SETELAH KAMU MEMBUKTIKANNYA (Bob Edwarda) PANDAI MENUTUP MULUT ADALAH CERMIN KEPANDAIAN SESEORANG (Schopenhaver) ILMU PENGETAHUAN PADA MASA MUDA AKAN MEMBUAT ORANG MENJADI BIJAKSANA PADA HATI TUA (Anonymous) BADAI MEMBUAT PEPOHONAN MEMPERDALAM AKARNYA (Laude McDonald) SUMBER KEKUATAN BARU BUKANLAH UANG YANG BERADA DALAM GENGGAMAN TANGAN BEBERAPA ORANG, NAMUN INFORMASI DI TANGAN ORANG BANYAK (John Naisbitt) THE MORE YOU SWEAT IN TRAINING, THE LESS YOU BLEED IN BATTLE (Armed Forces Motto)  SEORANG JUARA IALAH YANG MAMPU BANGUN KETIKA IA TAK MAMPU (Jack Dempsey KEGEMBIRAAN AKAN DATANG SETELAH KESUSAHAN (Guillaume Apollina'ire KEJUJURAN ADALAH BATU PENJURU DARI SEGALA KESUKSESAN. PENGAKUAN ADALAH MOTIVASI TERKUAT (May Kay Ash KEPEMIMPINAN ADALAH ANDA SENDIRI DAN APA YANG ANDA LAKUKAN (Frederick Smith)  RAJIN ADALAH OBAT MUJARAB (Al-Ghazali KEINDAHAN TERDAPAT DALAM KEJUJURAN (Schiller THOSE WHO ARE AFRAID TO FALL, WILL NEVER FLY (Anonymous

waisak2024

Saddharma Pundarika Sutra (妙法蓮華經) Bab 19 Karunia 6 Indera

Bab 19

Karunia 6 Indera

19

Kemudian Sang Buddha menyapa Bodhisatva Mahasatva Satatasamitabyukta (Penuh Semangat), seraya berkata: “Wahai Satatasamitabyukta! Bilamana putera-puteri baik menerima dan menjunjungi Sutra Teratai ini, membaca, menghafalkan, memaklumi serta menyalinnya, maka akan diperolehnya 800 karunia mata, 1,200 karunia telinga, 800 karunia hidung, 1,200 karunia lidah, 800 karunia tubuh dan 1,200 karunia pikiran, sehingga ke 6 inderanya terhias menjadi bersih sempurna.

“Putera-puteri baik ini, dengan organ mata yang dilahirkan dari ibunya, akan dapat melihat segalanya baik didalam maupun diluar milyaran dunia; Pegunungan, hehutananan, sungai dan lautan, kebawah sampai pada neraka Avici (neraka terdalam) dan keatas sampai pada Puncak KeBrahmaan (surga tertinggi). Mereka akan dapat melihat segenap mahluk yang ada didalamnya, sebab musabab dan akibat dari prilaku mereka masing-masing.”

Kemudian Yang Maha Agung berkenan memaklumi kembali maksudnya, maka bersabdalah Beliau dengan syair:

Jika ditengah-tengah pesamuan besar (orang banyak),

seseorang menceramahkan Sutra ini dengan hati tiada gentar ,

maka akan diperolehnya 800 karunia mata

sehingga matanya menjadi bersih sempurna.

Dengan mata yang dilahirkan dari ibunya,

ia akan dapat melihat seluruh milyaran dunia,

baik didalam maupun diluarnya, yaitu

Gunung Meru, Gunung Sumeru, dan Gunung Lingkaran Besinya.

(Gunung Sumeru dikelilingi oleh 4 benua. Bumi kita terletak di benua selatan.)

serta seluruh pegunungan dan hehutanan lainnya.

Lautan samodra, sungai dan aliran lainnya.

(Lautan luas yang ada diluar bumi kita)

Kebawah sampai pada neraka Avici,

keatas sampai pada Puncak KeBrahmaan.

Ia akan melihat segenap mahluk yang ada ditengah-tengahnya.

Meski tidak dimilikinya penglihatan dewata,

namun ia dapat melihat semua itu

dengan kesempurnaan indera matanya.

“Lagi, wahai Satatasamitabyukta! Bilamana putera-puteri baik menerima dan menjunjungi Sutra Teratai ini, membaca, menghafalkan, memaklumi serta menyalinnya, maka akan diperolehnya 1,200 karunia telinga sehingga telinganya terhias menjadi bersih sempurna.

“Putera-puteri baik ini, dengan organ telinga yang dilahirkan dari ibunya, akan dapat mendengar segala macam suara didalam milyaran dunia, kebawah sampai pada neraka Avici dan keatas sampai pada Puncak KeBrahmaan, baik didalam maupun diluarnya. Suara-suara hewan yaitu gajah, kuda, lembu, kereta, tangisan, kesedihan, nafiri, genderang, gong dan genta. Suara-suara tertawa, berbicara, pria, wanita, anak lelaki dan anak perempuan. Suara-suara Dharma dan yang bukan Dharma. Suara-suara penderitaan dan kesuka-riaan. Suara-suara orang awam dan orang suci. Suara-suara senang dan yang tidak. Suara-suara dewata, naga, yaksha, gandharva, asura, garuda, kimnara dan mahoraga. Suara-suara api, air dan angin. Suara-suara neraka, setan lapar dan hewan. Suara-suara bhiksu dan bhikshuni. Suara-suara Sravaka, Pratyekabuddha, Bodhisatva dan Buddha. Meski belum diperolehnya pendengaran dewata, namun ia dapat mendengar dan mengenal segala macam suara tanpa kekeliruan. Dengan demikian, ia dapat membeda-bedakan segala ragam suara tanpa merusak indera pendengarannya.”

Kemudian Yang Maha Agung berkenan memaklumi maksudnya, maka bersabdalah Beliau dengan syair:

Dengan telinga yang dilahirkan dari ibunya,

ia akan dapat mendengar suara-suara di milyaran dunia.

Suara-suara gajah, kuda, kereta dan lembu.

Suara-suara genta, gong, nafiri dan genderang.

Suara-suara kecapi, harpa, seruling dan peluit.

Suara-suara lagu suci merdu syadu.

Ia dapat mendengar semua ini tanpa termelekat olehnya.

Beraneka ragam suara-suara manusia –

Ia dapat mendengar dan memahaminya.

Lagi, ia dapat pula mendengar suara-suara mahluk kesurgaan,

suara-suara alunan lagu yang halus dan menakjubkan.

Ia dapat mendengar suara-suara pria dan wanita,

suara-suara anak lelaki (Perjaka) dan anak perempuan (Perawan).  

Ditengah-tengah pegunungan, sungai dan lembah,

suara-suara burung kalavinka, burung jivakajivaka dan lainnya.

Ia akan dapat mendengar suara-suara itu secara terperinci.

Suara-suara derita di alam neraka, setan lapar dan hewan,

Suara-suara asura yang berkediaman dipantai samodra

(Lautan samodra luas diluar bumi kita)

ketika mereka saling berbincang-bincang ataupun menjerit.

(Mahluk-mahluk asura sering menjerit dan bertengkar)

Si penceramah Dharma akan dapat mendengar

segala suara itu tanpa mencederai indera telinganya.

Dunia-dunia di 10 penjuru alam semesta,

ketika hewan buas dan burung saling bersahutan,

Si penceramah Dharma akan dapat mendengarnya dari kejauhan.

Suara-suara di surga KeBrahmaan, yaitu surga KeBrahmaan Cahaya Suara,

surga KeBrahmaan Maha Suci sampai pada puncak surga KeBrahamaan.

Si penceramah Dharma dapat mendengarnya secara terperinci.

Seluruh kelompok bhiksu dan bhiksuni,

baik sedang membaca, menghafalkan Sutra

maupun sedang menceramahkannya kepada orang banyak –

Si penceramah Dharma meski berkediaman disini

dapat mendengar semua suara-suara itu dari kejauhan.

Mereka yang membaca dan menghafalkan ajaran-ajaran Sutra

serta menceramahkannya kepada orang banyak,

ataupun mereka yang memaklumi sebait dari Sutra ini –

Si penceramah Dharma akan dapat mendengarnya.

Ketika para Buddha maupun guru-guru bijaksana

sedang menceramahkan Dharma menakjubkan

ditengah-tengah pesamuan besar (orang banyak),

ia yang menjunjungi Dharma Sutra Teratai ini

akan dapat mendengar suara-suara itu secara terperinci.

Segala macam suara yang ada didalam maupun diluar milyaran dunia,

kebawah sampai pada neraka Avici dan keatas sampai pada surga KeBrahmaan –

Si penjunjung Sutra Teratai akan dapat mendengar

semua suara-suara itu tanpa mencederai indera telinganya.

Dengan indera pendengarannya yang sedemikian tajam,

ia dapat membeda-bedakan dan memahami semua suara itu.

Meski tidak dimilikinya pendengaran dewata,

namun ia dapat mendengar semua suara-suara itu

dengan kesempurnaan indera telinganya.

“Lagi, wahai Satatasamitabyukta! Bilamana putera-puteri baik merima dan menjunjungi Sutra Teratai ini, membaca, menghafalkan, memaklumi serta menyalinnya, maka akan diperolehnya 800 karunia hidung, sehingga hidungnya terhias menjadi bersih sempurna.

“Putera-puteri baik ini, dengan organ hidung yang dilahirkan dari ibunya, akan dapat mencium segala macam bebauan. Kebawah sampai pada neraka Avici dan keatas sampai pada Puncak KeBrahmaan, baik didalam maupun diluar milyaran dunia, heharuman bunga sumana, jatika, mallika, champaka, patala, teratai merah, teratai biru, teratai putih, pepohonan yang sedang berkembang maupun yang sedang berbuah. Heharuman kayu cendana, kayu gaharu, kayu tamalapatra dan kayu tagara. Heharuman dedupaan dari ribuan, puluhan ribu ramuan. Heharuman dedupaan berupa bubuk, butiran maupun salep. Si penjunjung Sutra Teratai, meski berkediaman disini, akan dapat mencium dan membeda-bedakan semua bebauan itu.

“Lagipula, ia akan dapat mencium bebauan para mahluk, yaitu gajah, kuda, lembu, domba dan sebagainya. Bebauan pria, wanita, anak lelaki (Perjaka) dan anak perempuan (Perawan). Bebauan tetanaman, pepohonan, semak-semak dan hehutanan. Baik dekat maupun jauh, ia dapat mengenal semua bebauan itu tanpa kekeliruan.

“Ia yang menjunjungi Sutra ini, meski berkediaman disini, akan dapat mencium segala bebauan dari berbagai tingkat kesurgaan, bebauan pepohonan kesurgaan parijataka dan kovidara, bebauan bunga-bunga mandarava, maha mandarava, manjushaka dan maha manjushaka, bebauan kayu cendana, kayu gaharu, bubu dedupaan, serta dedupaan dari bermacam-macam bebungaan – bebauan kesurgaan dan segala macam ramuan, tiada yang tidak dapat dicium dan dikenalnya.

“Ia akan dapat mengenal pula bebauan tubuh mahluk-mahluk kesurgaan, bebauan ketika raja Sakra Dewendra berkediaman dalam istananya, sedang menghibur dirinya serta memuaskan ke 5 inderanya, bebauan ketika ia menghadiri aula Dharma dan menceramahkan Dharma kepada mahluk-mahluk kesurgaan Trayastrimsha (Surga tingkat 2), bebauan ketika ia berkelena dengan riangnya di taman indah permai, maupun bebauan dari tubuh dewata pria dan wanita – Semua ini dapat tercium olehnya dari kejauhan.

“Ia akan dapat mencium segala macam bebauan. Keatas sampai pada Puncak KeBrahmaan, bebauan dari tubuh mahluk-mahluk kesurgaan maupun bebauan dupa kesurgaan. Lagipula, bebauan Sravaka, Pratyekabuddha, Bodhisatva dan Buddha – Ia dapat mengenal semua bebauan ini dari kejauhan dan mengetahui pula letak mereka masing-masing. Ia dapat mencium segala bebauan ini tanpa merusak indera penciumannya. Ia dapat membeda-bedakan dan menjelaskan segala bebauan itu, satu dari yang lainnya, tanpa kekeliruan.”

Kemudian Yang Maha Agung berkenan memaklumi kembali maksudnya, maka bersabdalah Beliau dengan syair:

Hidung orang demikian menjadi bersih sempurna.

Segala bebauan didalam dunia ini,

baik yang harum maupun yang busuk,

bebauan bunga sumana dan jatika,

tamalapatra, kayu cendana, kayu gaharu, kayu cassia,

bebauan dari bebungaan dan buah-buahan,

ia akan dapat mengenal segala bebauan mahluk

baik bebauan pria maupun bebauan wanita.

Si penceramah Dharma dapat mengenalnya dari kejauhan

dan mengetahui pula keberadaan mereka masing-masing.

Raja pemutar roda Dharma yang maha berkuasa,

(Raja Cakravartin Emas penguasa 4 benua)

raja-raja pemutar roda kecil serta putera-puteranya,

(Raja Cakravartin penguasa 3 , 2 ataupun 1 benua)

para menteri, pembantu dan pelayannya –

Ia akan dapat mencium bebauan mereka dan

mengetahui keberadaan mereka masing-masing.

Permata-permata yang menghias tubuh mereka,

harta karun yang terpendam dalam bumi,

ratu maupun selir-selir dari raja pemutar roda –

ia akan dapat mengenal dan mengetahui letak mereka.

Perhiasan, pakaian dan kalungan dikenakan mereka,

dan segala macam salep dedupaan -

Dengan indera penciumannya, ia dapat mengenal pemakainya.

Ketika mahluk-mahluk kesurgaan sedang berkelena, duduk,

bersuka ria ataupun sedang mempertunjukkan kegaiban mereka,

si penjunjung Sutra Teratai dapat mengetahui semua itu dengan daya penciumannya.

Mekarnya buah-buahan dari pepohonan,

maupun bebauan dari segala macam mentega –

Si penjunjung Sutra Teratai dapat menciumnya dari kejauhan.

Dalam pegunungan, ngarai dan cadas-cadas gunung curam,

pepohonan kayu cendana yang sedang bertumbuhan,

para mahluk yang ada ditengah-tengahnya –

Dengan indera penciumannya, ia dapat mengetahui semua itu.

Mahluk-mahluk dalam Gunung Lingkaran Besi (alam neraka)

di samodra luas (alam asura) maupun didalam bumi (alam manusia).

Si penjunjung Sutra Teratai, dengan indera penciumannya,

dapat mengetahui keberadaan mereka masing-masing.

Asura kaum pria dan kaum wanita serta rombongan pengikutnya

ketika saling bertengkar ataupun sedang menghibur dirinya –

Dengan daya penciumannya, ia dapat mengetahui semua itu.

Di padang rerumputan maupun jurang dimana berkeliaran

singa, gajah, harimau, serigala, banteng, kerbau dan sebagainya –

Dengan mencium bebauannya, ia dapat mengetahui letak mereka.

Ketika seorang wanita sedang berhamil

dan belum diketahui jenis kelamin anaknya,

apakah anaknya akan terlahir dalam keaadaan normal atau cacat.

Dengan daya penciumannya, ia segera mengetahuinya.

Ia dapat mengetahui bilamana seorang wanita baru saja mengandung,

apakah kandungannya akan berhasil atau tidak,

apakah ia akan melahirkan dengan aman atau tidak,

apakah anaknya akan terlahir dalam keadaan sehat atau tidak.

Dengan daya penciumannya, ia dapat mengetahui

apa yang direnungkan kaum pria dan kaum wanita,

apakah mereka ternodai oleh hawa nafsu, kebodohan ataupun kebencian,

dan ia dapat mengetahui pula kebajikan-kebajikan yang diperbuat mereka.

Harta benda yang terpendam dalam bumi,

yaitu emas, perak, lapis lazuli dan sebagainya.

Harta karun dalam peti tembaga.

Bemacam-macam jenis kalungan, yang nilainya tidak diketahui –

Dengan daya penciumannya, ia segera mengetahui

berharga atau tidaknya benda-benda itu maupun sumber dan letaknya.

Bunga-bunga kesurgaan seperti mandarava dan manjushaka,

pepohonan kesurgaan parijataka dan sebagainya –

Dengan daya penciumannya, ia dapat mengenalnya dengan sempurna.

Istana-istana kesurgaan, baik diatas, ditengah-tengah maupun dibawah,

berhiaskan dengan segala macam rangkaian bunga kesurgaan –

Dengan daya penciumannya, ia dapat mengenalnya secara terperinci.

Tetamanan dan sesemakan kesurgaan, istana-istana menakjubkan,

menara-menara yang menjulang tinggi, serta aula-aula Dharma,

dan mereka yang berada ditengah-tengahnya –

Dengan daya penciumannya, ia dapat mengetahui semuanya.

Ketika mahluk-mahluk kesurgaan sedang mendengarkan Dharma,

ataupun sedang memuaskan ke 5 inderanya,

Baik berkelena, berjalan, duduk maupun berbaring –

Dengan daya penciumannya, ia dapat mengetahui semua itu secara terperinci.

Jubah serta pakaian yang dikenakan para bidadari

yang berhiaskan bebungaan indah dan berharumkan parfum,

berkibar tertiup angin ketika mereka bersuka ria –

Dengan daya penciumannya, ia dapat mengetahui semua itu.

Keatas sampai pada surga KeBrahmaan,

baik mereka yang sedang bermeditasi maupun yang tidak –

Dengan daya penciumannya, ia dapat mengetahui secara terperinci.

Surga KeBrahmaan Cahaya Suara, Maha Suci sampai pada Puncak KeBrahmaan –

Mereka yang baru saja terlahir maupun mereka yang baru saja meninggal.

Kelompok Sangha yang senantiasa melaksanakan Dharma,

baik duduk maupun berkelena, menghafalkan Sutra.

Mereka yang sedang berkediaman dibawah pepohonan hutan

senantiasa memusatkan pikiran dalam meditasi –

Si penjunjung Sutra Teratai, dengan daya penciumannya,

dapat mengetahui letak mereka masing-masing.

Bodhisatva yang mempunyai tekad teguh, mendalami meditasi,

membaca Sutra ataupun menceramahkan Dharma kepada orang banyak.

Dengan daya penciumannya, ia dapat mengetahui semua itu.

Para Buddha Tathagata di 10 penjuru alam semesta,

dengan penuh welas asih menceramahkan Dharma

dimuliakan dan disanjung oleh para mahluk –

Dengan daya penciumannya, ia dapat mengetahui semua itu.

Para mahluk dihadapan Buddha yang

mendengarkan Dharma dengan penuh gembira,

serta melaksanakan sesuai dengan apa yang disabdakan –

Dengan daya penciumannya, ia dapat mengetahui semua itu.

Meski belum dimilikinya indera penciuman Bodhisatva yang tak tercela,

akan tetapi telah diperolehnya daya penciuman sedemikian.

“Lagi, wahai Satatasamitabyukta! Bilamana putera-puteri baik menerima dan menjunjungi Sutra Teratai ini, membaca, menghafalkan, memaklumi serta menyalinnya, maka akan diperolehnya 1,200 karunia lidah. Segala macam santapan, baik yang lezat maupun yang pahit, ketika disantap olehnya akan segera menjadi kelezatan penuh citra rasa bagaikan embun manis kesurgaan, sehingga tiada yang tidak terasa menyenangkan.

“Jika dengan organ lidahnya yang kian sempurna, ia menceramahkan Dharma ditengah-tengah pesamuan besar (orang banyak), maka suaranya yang dalam dan menakjubkan akan menggembirakan seluruh pendegarnya. Ketika dewa-dewi, raja Sakra, Brahma dan mahluk-mahluk kesurgaan lainnya, mendengar suaranya yang dalam dan menakjubkan, menceramahkan Dharma serta memakluminya tahap demi tahap, semuanya akan datang berkumpul untuk mendengarkannya. Para naga dan puteri-puterinya, para yaksha dan puteri-puterinya, para gandharva dan puteri-puterinya, para asura dan puteri-puterinya, para garuda dan puteri-puterinya, para kimnara dan puteri-puterinya, para mahoraga dan puteri-puterinya akan datang berkumpul untuk mendengarkan ceramah Dharma, menyanjung serta memuliakannya. Para bhiksu, bhiksuni, upasaka, upasika, raja pemimpin, pangeran, menteri disertai rombongan pengikutnya, raja pemutar roda, baik yang maha berkuasa maupun yang kecil, disertai ribuan putera-puteranya akan datang mengendarai istana-istananya untuk mendengarkan Dharma.   

“Karena Bodhisatva ini fasih dan pandai menceramahkan Dharma, maka para Brahmana, penduduk dan seluruh rakyat akan siap mendampingi dan melayaninya seumur hidup mereka. Para Sravaka, Pratyekbuddha, Bodhisatva dan Buddha akan senantiasa gemar memandangnya. Dimanapun ia menceramahkan Dharma, maka para Buddha akan menghadap kearahnya, sehingga ia dapat menerima dan menjunjungi seluruh kekayaan Dharma.”

Kemudian Yang Maha Agung berkenan memaklumi kembali maksudnya, maka bersabdalah Beliau dengan syair:

Indera lidah orang ini akan menjadi bersih sempurna,

sehingga tiada santapan yang terasa pahit olehnya.

Tetapi semua yang disantap olehnya

akan segera menjadi kelezatan surgawi.

Dengan suara yang dalam dan mempersona,

Ia akan menceramahkan Dharma kepada pesamuan besar,

           dengan berbagai sebab musabab, perumpamaan

dan cara bijaksana membimbing para mahluk.

Semua yang mendengarnya akan bersuka cita

dan mempersembahkannya yang terbaik.

Para dewata, naga, yaksha, asura dan sebagainya

dengan takzim berdatangan untuk mendengarkan Dharma.

Sesuai kehendaknya, si penceramah Dharma dapat memenuhi

seluruh milyaran dunia dengan suaranya yang indah menakjubkan.

Raja pemutar roda, baik yang maha berkuasa maupun yang kecil,

disertai ribuan putera-puteranya dan rombongan pengikutnya,

dengan tangan terkatup senantiasa datang untuk mendengarkan Dharma.

Para dewata, naga, yaksha, rakshasa dan pisacha dengan rasa suka cita

akan senantiasa datang untuk memuliakannya dengan persembahan.

Raja-raja surga KeBrahmaan, raja mara (iblis),

mahluk-mahluk dari surga KeBrahmaan Bebas dan Maha Bebas

dan seluruh kelompok mahluk kesurgaan

akan senantiasa datang mengunjunginya.

Para Buddha dan siswa-siswaNya

ketika mendengar suaranya menceramahkan Dharma,

akan senantiasa memperhatikan dan melindunginya,

dan sewaktu-waktu akan menampakkan diri kepadanya.

“Lagi, wahai Satatasamitabyukta! Bilamana putera-puteri baik menerima dan menjunjungi Sutra Teratai ini, membaca, menghafalkan, memaklumi serta menyalinnya, maka akan diperolehnya 800 karunia tubuh bagaikan lapis lazuli murni, sehingga semua mahluk gemar memandangnya. Para mahluk dimilyaran dunia, baik mereka yang baru saja terlahir maupun mereka yang baru saja meninggal, baik mereka yang terlahir ke alam surga maupun mereka yang terlahir ke alam sengsara, baik mereka yang terlahir dalam keadaan baik maupun mereka yang terlahir dalam keadaan buruk. Semuanya akan tercerminkan dalam tubuhnya yang jernih sempurna. Gunung-gunung raksasa, gunung Lingkaran Besi, gunung Lingkaran Besi Besar, gunung Meru maupun gunung Maha Meru, serta mahluk-mahluk yang ada ditengah-tengahnya. Semuanya akan tercerminkan dalam tubuhnya. Kebawah sampai pada neraka Avici dan keatas sampai pada Puncak KeBrahmaan, segenap kawasan serta mahluk-mahluk yang menghuninya, semuanya akan tercerminkan dalam tubuhnya. Para Sravaka, Pratyekabuddha, Bodhisatva dan Buddha yang sedang menceramahkan Dharma – Bentuk dan rupa mereka masing-masing akan tercerminkan dalam tubuhnya.”

Kemudian Yang Maha Agung berkenan memaklumi kembali maksudnya, maka bersabdalah Beliau dengan syair:

Jika seseorang menjunjungi Sutra Teratai ini,

tubuhnya akan menjadi bersih sempurna seperti lapis lazuli murni –

sehingga mahluk-mahluk gemar memandangnya.

Tubuhnya bagaikan cermin yang jernih cemerlang,

dimana segala bentuk dan rupa akan dapat terlihat.

Dengan tubuhnya yang bersih sempurna,

Bodhisatva ini akan dapat menyaksikan segala peristiwa dunia;

Ia akan dapat melihat apa yang tak terlihat orang lain.

Seluruh mahluk, para dewata, manusia, asura,

penghuni neraka, setan lapar dan hewan –

Bentuk dan rupanya akan tercerminkan dalam tubuhnya.

Istana-istana kesurgaan, keatas sampai pada Puncak Kesurgaan,

gunung Lingkaran Besi, gunung Meru dan gunung Mahameru,

laut samodra luas dan aliran air lainnya –

Semuanya akan tercerminkan dalam tubuhnya.

Para Buddha dan siswa-siswa SravakaNya,

putera-putera Buddha dan para Bodhisatvanya,

baik sedang sendirian maupun sedang menceramahkan Dharma

Semuanya akan tercerminkan pada tubuhnya.

Meski belum dimilikinya raga Dharma KeBodhisatvaan yang tak tercela,

namun segala sesuatu akan dapat tercerminkan dalam kejernihan tubuhnya.

“Lagi, wahai Satatasamitabyukta! Bilamana putera-puteri baik menerima dan menjunjungi Sutra Teratai ini, membaca, menghafalkan, memaklumi serta menyalinnya, maka akan diperolehnya 1,200 karunia pikiran. Dengan kesempurnaan indera pikirannya yang bersih tak ternodai, ketika mendengar sesyair ataupun sebait percakapan, mereka akan memperoleh pemahaman yang tak terbatas, serta menceramahkannya selama 1 bulan, 4 bulan hingga 1 tahun. Apapun yang diuraikan akan serasi dengan makna sesungguhnya dan tidak akan berpaling dengan kebenaran belaka.

“Jika mereka menceramahkan tentang perihal-perihal keduniawian, pemerintahan, ataupun sarana-sarana mengenai harta kekayaan dan kehidupan sehari-sehari, semuanya akan sesuai dengan kebenaran Dharma. Ia akan dapat memahami pula segala pemikiran mahluk di 6 alam samsara dalam milyaran dunia, serta apa yang direnungkan mereka.

“Meski belum dimilikinya kebijaksanaan Bodhisatva yang tak tercela, namun indera pikiran mereka akan sedemikian sempurna, sehingga apapun yang mereka renungkan, perhitungkan, duga ataupun ucapkan akan senantiasa serasi dengan Dharma, tiada melenceng dari kebenaran belaka, dan sesuai pula dengan apa yang diajarkan oleh para Buddha terdahulu.”

Kemudian Yang Maha Agung berkenan memaklumi kembali maksudnya, maka bersabdalah Beliau dengan syair:

Indera pikirannya menjadi bersih sempurna,

cerdas, tajam dan tak ternodai.

Dengan indera pikiran yang menakjubkan ini,

mereka dapat memahami seluruh Dharma,

baik yang tinggi, sedang maupun yang rendah.

(1.Kendaraan Buddha 2.Kendaraan Pratyekabuddha 3.Kendaraan Sravaka)

Ketika mendengar sesyair ataupun sebait uraian,

mereka dapat memahami makna yang tak terbatas,

memakluminya tahap demi tahap sesuai kebenaran Dharma

selama 1 bulan, 4 bulan ataupun 1 tahun.

Segenap mahluk yang ada didalam maupun diluar dunia ini,

para dewata, naga, manusia, yaksha, mahluk halus dan sebagainya –

Si penjunjung Sutra Teratai akan dapat memahami segala pemikiran mereka.

Buddha-Buddha di 10 penjuru alam semesta yang tak terhitung jumlahnya,

dengan ratusan tanda kemuliaanNya,

senantiasa menceramahkan Dharma kepada para mahluk –

Si penjunjung Sutra Teratai akan dapat mengetahui dan menerimanya.

Mereka akan merenungkan berbagai ajaran Dharma,

serta menceramahkannya dengan bermacam-macam

cara bijaksana yang tak terhitung jumlahnya,

namun dari awal sampai akhir tiada pernah keliru,

karena mereka adalah penjunjung Sutra Teratai.

Mereka akan memahami sifat dari segala perwujudan (Kesunyataan),

dan sesuai dengan makna sesungguhnya dan urutan sebenarnya.

pandai dalam nama dan percakapan,

memakluminya sesuai pemahamannya.

Apapun yang diceramahkannya akan

serasi dengan Dharma para Buddha terdahulu.

Karena menceramahkan Dharma Sutra ini,

maka mereka tiada gentar dihadapan pesamuan besar.

Demikianlah indera pikiran si penjunjung Sutra Teratai.

Meski belum dicapainya tingkat KeBodhisatvaan tak tercela,

namun demikianlah kesempurnaan indera pikirannya.

Mereka yang menjunjungi Sutra Teratai ini,

akan tenteram dan kokoh abadi di tingkat langka,

digemari, dicintai dan disanjungi oleh segenap mahluk.

Pandai dalam menerapkan ribuan, puluhan ribu ragam percakapan.

Memaklumi, menceramahkan dan mengarjarkannya –

Karena betapapun juga mereka menjunjungi Sutra Teratai!