bannerchingtu

SESUATU YANG BESAR TIDAK MUNGKIN DICAPAI TANPA SEMANGAT YANG BESAR (Anonymous) HAL YANG PALING MENGERIKAN DI DUNIA INI IALAH KEADILAN YANG DIPISAHKAN DARI CINTA KASIH (Francois Mauriac) PADA SETIAP KEBAIKAN TERLETAK SEGALA BENTUK KEBIJAKSANAAN (Euripides) MENGAJAR SAMA DENGAN BELAJAR (Pepatah Jepang) ORANG LAIN AKAN MENGAKUI KEMAMPUANMU SETELAH KAMU MEMBUKTIKANNYA (Bob Edwarda) PANDAI MENUTUP MULUT ADALAH CERMIN KEPANDAIAN SESEORANG (Schopenhaver) ILMU PENGETAHUAN PADA MASA MUDA AKAN MEMBUAT ORANG MENJADI BIJAKSANA PADA HATI TUA (Anonymous) BADAI MEMBUAT PEPOHONAN MEMPERDALAM AKARNYA (Laude McDonald) SUMBER KEKUATAN BARU BUKANLAH UANG YANG BERADA DALAM GENGGAMAN TANGAN BEBERAPA ORANG, NAMUN INFORMASI DI TANGAN ORANG BANYAK (John Naisbitt) THE MORE YOU SWEAT IN TRAINING, THE LESS YOU BLEED IN BATTLE (Armed Forces Motto)  SEORANG JUARA IALAH YANG MAMPU BANGUN KETIKA IA TAK MAMPU (Jack Dempsey KEGEMBIRAAN AKAN DATANG SETELAH KESUSAHAN (Guillaume Apollina'ire KEJUJURAN ADALAH BATU PENJURU DARI SEGALA KESUKSESAN. PENGAKUAN ADALAH MOTIVASI TERKUAT (May Kay Ash KEPEMIMPINAN ADALAH ANDA SENDIRI DAN APA YANG ANDA LAKUKAN (Frederick Smith)  RAJIN ADALAH OBAT MUJARAB (Al-Ghazali KEINDAHAN TERDAPAT DALAM KEJUJURAN (Schiller THOSE WHO ARE AFRAID TO FALL, WILL NEVER FLY (Anonymous

waisak2024

Saddharma Pundarika Sutra (妙法蓮華經) Bab 04 Pemahaman

Bab 04

Pemahaman

04

Sesudah mendengar ramalan tersebut, Sang Subuti, Maha Katyayana, Maha Kasyapa dan Maha Maudgalyayana dengan penuh gembira bangkit dari duduknya, merapikan pakian, dan membentangkan bahu kanan (sebagai perhomatan), serta membungkukkan badan sambil mengatupkan kedua tangan masing-masing. Kemudian mereka memandang Sang Buddha, seraya berkata: “Kami adalah ketua Sangha yang sudah lanjut usia. Kami menganggap diri sendiri telah mencapai Nirvana mutlak sehingga tiada lagi yang perlu dicapai. Oleh karenanya kita tidak lagi mencurahkan diri untuk mencapai Anuttara-Samyak-Sambodhi.

“Sang Buddha telah lama menceramahkan Dharma dan selama itu kami duduk ditempat; Badan kami letih. Yang kami renungkan hanyalah kesunyataan (kekosongan), sehingga kami tidak melakukan selebihnya. Mengenai paramita KeBodhisatvaan, daya kekuatan gaib, penyempurnaan alam Buddha dan penyelamatan para mahluk, hati kami tidak sedikit pun bersuka cita. Oleh karenanya, Sang Buddha membiarkan kami, membina kami untuk mencapai Nirvana (Sravaka), sehingga kami terbebas dari Triloka.

“Kini kami telah lanjut usia. Ketika mendengar Dharma tentang Anuttara-Samyak-Sambodhi yang diterapkan bagi para Bodhisatva, hati kami tiada rasa gembira. Namun kini dihadapan Sang Buddha, kami telah mendengar ramalan Sang Sariputra sehingga hati kami diliputi dengan kegembiraan yang meluap-meluap. Kami telah memperoleh apa yang belum kami peroleh sebelumnya. Kami telah mendengar Dharma yang tidak pernah kami harapkan hingga hari ini juga. Oleh karenanya, kami bersyukur telah memperoleh manfaat yang kian melimpah ruah; Bagaikan permata berharga yang diperoleh tanpa diharapkan.

“Yang Maha Agung! Kami sekarang berkenan menerapkan suatu perumpamaan untuk memaklumi peristiwa tersebut. Seandainya terdapat seorang mudah yang meninggalkan ayahnya. Ia mengembara kian kemari selama 10, 20, hingga 50 tahun. Semakin tua, Ia menjadi semakin miskin. Ia mengembara ke segenap jurusan demi memperoleh sandang dan pangan. Tanpa diduganya, ia menuju ke arah tempat asalnya.

“Ayahnya terus mencari anak ini, namun gagal menemuinya. Sementara itu, Ia tinggal di suatu kota, dimana ia menjadi kaya raya. Rumahnya penuh dengan harta benda berharga yang melimpah, yaitu emas, perak, lapis lazuli, kerang, ember, kristal dan permata-permata lainnya. Ia mempunyai banyak pelayan, pembantu dan pegawai. Ia memiliki kereta gajah dan kereta kuda serta lembu dan domba yang tiada hitungan. Usahanya tersebar ke segala negeri. Orang-orang yang berdagang dengannya serta pelanggannya pun luar biasa banyaknya.

“Pada saat ini si anak malang mengembara dari desa ke desa, menjelajahi banyak kota, hingga pada akhirnya ia sampai di kota dimana ayahnya berkediaman. Ayahnya selalu merindukan anak ini. Meski telah terpisah darinya selama 50 tahun, akan tetapi ia belum pernah memberitahukan kepada siapapun mengenai hal ini. Namun hatinya penuh penyesalan dan rindu pada anaknya. Ia menyadari akan usianya yang sudah lanjut. Ia memiliki banyak harta kekayaan, emas, perak yang memenuhi gudangnya. Tetapi Ia tidak mempunyai anak. Suatu hari bila ia wafat, tiada yang mewarisi harta kekayaannya.

“Oleh karenanya ia selalu memikirkan anaknya dan merenungkan; ‘Bilamana Aku menemui anakku maka Aku dapat mewariskan harta kekayaanKu kepadanya. Sesudah itu, barulah aku tenteram tanpa kekhawatiran lagi.’

“Sementara itu si anak malang bekerja disana sini dan tanpa diduga ia tiba di rumah ayahnya. Sambil berdiri di samping gerbang, ia melihat dari kejauhan Ayahnya yang sedang duduk di sebuah singgasana (Kursi berbentuk singa). Kakinya diatas penunjang kaki yang bertatakan manikam; Dikelilingi oleh Brahmana, Ksatria dan penduduk lainnya. Seluruh tubuh ayahnya berhiaskan untaian mutiara seharga ratusan ribu. Sedang kanan kirinya didampingi oleh pelayan-pelayan yang memegang kipas putih. Diatas kepalanya terdapat tirai permata yang digantungi rangkaian-rangkaian bunga. Percikan parfum wanginya harum semerbak. Tumpukan bunga indah tersebar di mana-mana. Benda-benda berharga diatur berderetkan. Demikianlah kemuliaan dan keagungannya.

“Ketika si anak malang melihat ayahnya yang nampak begitu berwibawa, ia timbul rasa takut dan menyesali kedatangannya ke tempat tersebut. Ia merenungkan, ‘Disini seperti istana kerajaan. Ini bukanlah tempat dimana aku dapat memperoleh pekerjaan yang layak buatku. Sebaiknya aku segera pergi ke desa terpencil, dimana jika aku bekerja keras, aku dengan mudah akan memperoleh sandang dan pangan. Jika aku berdiam disini, maka aku akan diperbudakkan.’ Menerungkan demikian, ia segera berangkat pergi dari situ.

“Pada saat itu ayahnya yang duduk di atas singgasana melihat dan mengenali anaknya dari kejauhan. Ia bersuka cita dan merenungkan: ‘Sekarang aku telah menemui puteraku. Aku selalu merindukannya. Kini ia telah muncul sesuai kehendakku. Meski telah lanjut usia, aku masih peduli akan harta kekayaanku.’

“Segera ia mengutus pengawalnya untuk mengejar anaknya dan membawanya kembali. Kemudian pengawal itu bergegas menangkapnya. Si pemuda miskin terkejut dan ketakutan. Dengan keras ia menyaut: ‘Saya tidak berbuat kesalahan apapun. Mengapa saya ditangkap.’ Tetapi utusan itu menggenggamnya lebih erat dan menyeretnya kembali.’

“Pada saat itu si pemuda itu berpikir: ‘Saya tidak bersalah, akan tetapi saya telah menjadi tawanan. Pasti saya akan dihukum mati.’ Karena ketakutan ia jatuh pingsan.

“Ayahnya yang melihat dari kejauhan kejadian ini, kemudian memerintahkan utusannya, ‘Saya tidak perlu lagi orang ini. Jangan memaksanya kembali. Siramkan air dingin pada wajahnya agar ia sadar kembali. Jangan bicara apapun lagi padanya.’

“Mengapa ia berbuat demikian? Karena betapapun juga sang ayah mengetahui watak anaknya yang rendah, sedang kedudukannya akan sulit diterima oleh anaknya. Ia yakin bahwa ini adalah anaknya, akan tetapi dengan kebijaksaannya, ia tak memberitahukan kepada siapapun akan hal ini.

“Utusan itu berkata kepada si pemuda miskin: ‘Kini engkau aku lepaskan. Pergilah sebebasmu.’ Si pemuda miskin itu sangat bersuka cita karena telah dibebaskan. Kemudian ia berdiri dan melanjutkan perjalannya ke sebuah pedusunan miskin untuk mencari sandang dan pangan.

“Pada saat itu Sang ayah yang ingin memikat hati anaknya, memutuskan untuk menerapkan suatu akal bijaksana. Segera ia mengirim utusan mata-mata yang tak berwibawa: ‘Carilah si anak malang itu dan dekatilah ia secara sederhana. Beritahukan ia bahwa disini ada pekerjaan untuknya, dimana ia dapat memperoleh upah dua kali lipat. Jika ia menyetujuinya, maka bawalah ia kembali dan berikanlah ia pekerjaan. Jika ia bertanya apa yang akan dilakukannya, maka jawablah bahwa ia akan dipergunakan untuk membersihkan kotoran dan kalian berdua akan bekerja bersamanya.’

“Kemudian kedua utusan itu berangkat pergi mencari si pemuda miskin itu, dan setelah menemuinya, mereka menyampaikan kepadanya seperti apa yang telah dipesan oleh orang kaya itu. Si pemuda miskin meminta agar upahnya dibayar terlebih dahulu dimuka. Selanjutnya ia bergabung bersama mereka membersihkan kotoran.

“Ayahnya yang memperhatikan anaknya dari kejauhan, tercekam rasa kasihan dan heran terhadapnya. Pada suatu hari, ia mengamati melalui jendela, raga anaknya yang kurus ceking dan terkotori tumpukan tinja, kotoran, keringat dan debu. Kemudian Sang ayah melepaskan untaian permatanya serta pakaian dan perhiasannya. Lalu ia mengenakan pakaian sobek dan kotor; Melumuri tubunya dengan kotoran dan mengambil sebuah alat pembersih kotoran ditangan kanannya serta dengan lagak yang kasar ia menyapa anaknya, seraya berkata: ‘Bekerjalah dengan tekun! Janganlah melalai!’ Dengan demikian, ia mendekati anaknya.

“Selanjutnya ia berkata lagi kepada anaknya: ‘Wahai anak mudah! Teruslah bekerja dan janganlah tinggalkan tempat ini. Aku akan menambah upahmu. Segala kebutuhanmu seperti mangkok, perabotan masak, beras, gandum, garam dan cuka sudah ku sediakan. Engkau tak perlu lagi mengkhawatirkannya. Aku mempunyai seorang pembantu tua. Bila perlu, engkau boleh meminjamnya. Janganlah risau. Anggaplah aku seperti ayahmu sendiri dan janganlah ada kekhawatiran lagi. Mengapa? Sebab aku telah lanjut usia. Sedang engkau mudah perkasa. Selama bekerja, saya memperhatikan bahwa engkau tiada pernah menipu, melalai, marah ataupun mencela. Engkau tidak memiliki sifat buruk seperti yang dimiliki pekerja-pekerja lainku. Mulai sekarang, engkau akan ku anggap seperti anakku sendiri.’ (Sang Buddha menganggap kita semua sebagai anaknya sendiri)

“Kemudian orang kaya itu memberikannya nama baru dan menyebutnya seperti anaknya. Meski si pemuda itu bersuka cita diperlakukan demikian, akan tetapi ia masih juga menganggap dirinya sebagai pekerja rendahan. Oleh karenanya, ayahnya menugaskan ia agar terus membersihkan kotoran tinja selama 20 tahun. Sesudah itu, anaknya mulai merasa dipercayai dan ia dapat keluar masuk sekehendaknya. Namun ia tetap tinggal ditempatnya semula.

“Suatu hari, si orang tua itu mendadak jatuh sakit dan menyadari bahwa ajalnya sudah dekat. Ia berkata kepada anaknya: ‘Aku memiliki banyak emas, perak, dan harta benda lainya yang memenuhi gudang. Kini aku ingin engkau mengaturnya dengan baik. Ini adalah kehendakku. Mengapa? Karena mulai sekarang, aku dan engkau bukanlah dua orang yang melainkan. Kita adalah sejiwa. Jagalah harta kekayaanku dengan cermat. Jangan sampai kehilangan.’

“Setelah mendengar pesan-pesan tersebut, si pemuda itu mengambil ahli pengawasan segala harta benda, yaitu emas, perak dan sebagainya. Akan tetapi ia cuma mengharapkan upahnya yang kecil tanpa adanya gagasan untuk memperoleh harta kekayaan itu sedikitpun. Lagipula, ia masih tinggal ditempat semula dan menganggap dirinya sebagai pekerja rendahan.

“Beberapa saat kemudian, ayahnya mengetahui bahwa anaknya dikit demi dikit mulai menjadi percaya diri. Tekadnya kian hari kian berkembang dan ia mulai memandang remeh pemikirannya yang terdahulu.

“Menyadari bahwa ajalnya telah tiba, si orang tua menyuruh anaknya mengumpulkan sanak saudaranya, raja setempat, para menteri, para ksatriya serta pekerja-pekerja seisi rumah. Setelah mereka berkumpul, ia mengumumkan: ‘Tuan-tuan dan para hadirin sekalian! Ketahuilah bahwa ini adalah puteraku yang terlahir dariku. Disuatu kota, ia meninggalkanku dan selama 50 tahun ia mengalami banyak kesulitan. Namanya semula ialah demikian, dan namaku ialah demikian. Dulu ketika aku tinggal di kota asalku, aku mencarinya tanpa adanya hasil. Kemudian aku menemuinya tanpa diduga. Ia sesungguhnya adalah puteraku dan aku sesungguhnya adalah ayahnya. Sekarang segala harta kekayaan yang ku miliki, aku wariskan kepadanya. Semua pengeluaran dan pemasukan yang terdahulu sudah diketahui oleh anak ini.’

“Setelah mendengar hal ini, si anak bersuka cita atas keberuntungannya itu, karena ia telah memperoleh apa yang belum diperoleh sebelumnya. Ia merenungkan demikian: ‘Pada awalnya saya tidak pernah mengharapkan semua ini. Namun harta kekayaan ini telah datang sendirinya.’

“Yang Maha Agung! Si orang tua kaya itu adalah Sang Tathagata sendiri dan kita semua adalah putera-putera Buddha. Tathagata selalu memberitahu bahwa kita adalah anaknya sendiri. Akan tetapi karena tercekam oleh ke 3 macam racun (1.Keserahkaan 2.Kebencian 3.Kebodohan), roda samsara, cemas dan ketidaktahuan, maka kita dengan segera mencari kebebasan melalui Kendaraan Kecil. Kini Sang Tathagata berkenan agar kita meninggalkan pemikiran rendah kita yang terdahulu.

“Pada semula kita mencurahkan diri untuk mencapai Nirvana, seperti upah sehari. Ketika mencapainya, kita merasa gembira dan puas. Kami menganggap: ‘Karena kita telah bekerja keras maka kita telah berhasil mencapai pengertian yang kian luasnya.’

“Sang Buddha mengetahui pemikiran rendah yang termelekat dalam-dalam dibatin kami, maka Ia membiarkan kami dan tak memberitahu bahwa kami akan memperoleh kekayaan Dharma Sang Buddha. Beliau dengan cara bijaksana membina kami mencapai Nirvana yang seperti upah sehari. Kita pun merasa puas sehingga tidak mencurahkan diri untuk berlanjut.

“Walaupun kita mengajar dan membentangkan tentang kebijaksanaan Sang Tathagata kepada para Bodhisatva, akan tetapi kita sendiri tidak mencurahkan diri untuk mencapainya. Oleh karenanya, Sang Buddha membina dan membebaskan kami melalui Kendaraan Kecil. Pada semula kita pun tak menyadari bahwa kita sesungguhnya adalah putera-putera Buddha yang pantas memperoleh kekayaan Raja Dharma.

“Kini kita telah menyadari bahwa Beliau tiada pernah kikir terhadap kebijaksanaan Buddha. Semenjak dahulu kala, kita semua adalah putera-putera Buddha, akan tetapi kita hanya menyenangi Kendaraan Kecil. Bilamana kita mempunyai jiwa kemuliaan, maka Sang Buddha akan mempertunjukkan Kendaraan Besar kepada kami.

“Didalam Sutra ini, Buddha hanya membentangkan Satu Kendaraan Buddha. Dahulu ketika dihadapan para Bodhisatva, Sang Buddha mencela para Sravaka sebagai siswa Kendaraan Kecil, sesungguhnya Beliau berkehendak mengarahkan kami menuju ke Jalan Besar. Meskipun kita tidak pernah mengharapkannya, namun kini harta kekayaan Sang Raja Dharma telah datang sendirinya. Sebagai putera-putera Buddha, kami pantas memperoleh semua kekayaan itu.”

Kemudian MahaKasyapa berkenan memaklumi kembali maksudnya, maka bersabdalah ia dengan syair:

Kini kami telah mendengar uraian Sang Buddha,

dan hati kami penuh rasa suka cita

karena telah memperoleh apa

yang belum kami peroleh sebelumnya.

Sang Buddha meramalkan

bahwa seluruh siswa-siswa SravakaNya

kelak mencapai KeBuddhaan.

Harta kekayaan Dharma yang tiada tara

telah datang sendirinya tanpa dicari.

Seperti halnya dengan si pemuda miskin;

Belum dewasa dan pelalai,

yang meninggalkan ayahnya dan

pergi ke kota lain yang jauh.

Mengembara kian kemari

dari negeri ke negeri selama 50 tahun.

Ayahnya dengan penuh kekhawatiran

mencarinya ke setiap penjuru.

Letih dengan pencariannya,

Ia berkediaman disuatu kota,

dimana ia membangun tempat tinggalnya

dan memuaskan ke 5 hasratnya.

Istananya dibangun mewah dan luas;

Terpenuhi dengan emas, perak, batu-batu berharga,

permata dan mutiara-mutiara langka,

serta ratna mutu manikam yang tak ternilai.

Ia juga mempunyai banyak peliharaan;

Gajah, kuda, lembu, domba.

Ia juga memiliki tandu dan kereta,

perkebunan, pelayan dan pembantu

dan banyak pekerja-pekerja lainnya.

Usahanya tersebar ke segenap negeri.

Pedagang dan langganannya terdapat dimana-mana.

Seluruh rakyat menyanjung dan memuliakannya.

Ia juga akrab dengan Raja setempat.

Para menteri dan bangsawan menyanjungnya.

Tamunya dari segala negeri datang berkunjungan.

Demikianlah kekayaan dan kekuasaannya.

Semakin tua, ia semakin cemas terhadap anaknya yang hilang.

Siang dan malam ia terus merenungkan akan hal ini.

‘Sekarang ajalku telah dekat.

Sudah lebih 50 tahun sejak anakku meninggalkanku.

Apa yang akan ku lakukan dengan harta kekayaanku?

Sementara, si anak malang mengembara

kian kemari mencari sandang dan pangan,

dari kota ke kota, dari negri ke negri.

Terkadang ia beruntung, terkadang tidak.

Kelaparan hingga kurus ceking.

Tubuhnya kotor penuh kudisan.

Mengembara dari tempat ke tempat,

ia secara tidak sengaja tiba di kediaman ayahnya.

Ketika itu, ayahnya sedang duduk diatas singgasana,

dikelilingi oleh pengawal dan penjaganya.

Beberapa diantaranya sedang sibuk menghitung

emas, perak dan benda lainnya.

Sedang yang lain menghitung keluar masuknya harta benda,

sambil mencatat buku kas dan nota-nota pinjaman.

Si pemuda miskin yang melihat keadaan itu berkesimpulan

bahwa ia adalah seorang raja ataupun setara dengannya.

Ia menyesali kedatangannya kemari, seraya berpikir:

‘Jika bertetap disini, aku hanya akan diperbudakkan.’

Dengan tergesa-gesa, ia lari dari tempat itu

dan pergi ke pedusunan miskin untuk mencari pekerjaan.

Saat itu, ayahnya yang sedang duduk di singgasana

melihat anaknya dari kejauhan dan diam-diam mengenalnya.

Segera ia mengutus seorang pengawal

untuk mengejar dan membawanya kembali.

Si pemuda miskin terkejut dan takut hingga terjatuh pingsan.

Dalam ingauannya, si anak malang berkata:

‘Pengawal ini telah menangkapku.

Pasti aku akan dihukum mati.

Mengapa nasibku begini malang.’

Orang kaya itu merenungkan demikian:

‘Ia tidak akan mempercayai bahwa aku adalah ayahnya.’

Maka dengan cara bijaksana, Ia mengutus

dua orang untuk menyampaikan pesannya.

Salah satu darinya hanya bermata satu,

sedang yang satunya lagi bertubuh kecil dan pendek.

Kedua orang itu sama sekali tidak berwibawa.

‘Beritahulah ia bahwa disini ada pekerjaan untuknya.

Ia boleh membantuku membersihkan kotoran dan sampah,

dan aku akan mengupahnya dua kali lipat.’

Ketika mendengar pesan ini, si pemuda itu menjadi gembira.

Segera ia kembali bersama kedua utusan itu ke istana ayahnya

dimana ia bekerja membersihkan kotoran dan sampah.

Ayahnya mengamati anaknya melalui jendela dari kejauhan,

heran mengapa anaknya itu senang melakukan pekerjaan rendah.

Terkadang orang tua itu mengenakan pakaian sederhana dan kotor,

menggenggam alat pembersih kotoran di tangan kanannya.

Dengan cara bijaksana demikian, ia dapat mendekati anaknya.

Orang tua itu menyuruh anaknya rajin bekerja:

‘Aku akan menaikkkan upahmu.

Aku telah siapkan untukmu minyak kaki,

dan akan ku berikan sandang dan pangan yang cukup.

Juga tikar yang tebal dan hangat.’

Terkadang orang tua itu menegur anaknya:

‘Bekerjalah dengan tekun!’

Terkadang orang tua itu berkata dengan lembut:

‘Engkau ku anggap seperti anakku sendiri.’

Si orang tua itu memperbolehkan anaknya

keluar masuk rumahnya sekehendaknya.

Setelah 20 tahun, ia menyuruh anaknya mengurus rumah tangganya,

mempertunjukkan kepadanya emas, perak, mutiara dan kristal,

serta keluar masuknya harta benda lainnya.

Akan tetapi anaknya tetap bertempat tinggal di pondok

dan memandang dirinya sebagai pekerja rendahan,

tanpa adanya gagasan untuk memperoleh harta benda tersebut.

Setelah beberapa saat kemudian ayahnya mengamati

bahwa tekad anaknya kian hari kian berkembang.

Karena ingin menyerahkan kekayaannya,

maka si orang tua mengumpul sanak saudaranya,

raja setempat, para menteri, para bangsawan

maupun seluruh pekerja rumah tangganya.

Dihadapan mereka, ayahnya mengumumkan:

‘Ini adalah anakku sendiri

Ia telah meninggalkanku selama 50 tahun.

Semenjak anakku kembali telah 20 tahun berlalu.

Pada dahulu, di suatu kota, aku kehilangan anakku.

Dengan susah payahnya, aku mencarinya ke segenap penjuru

sampai tibalah aku di kota ini.

Semua harta kekayaan yang ku miliki, rumahku dan pembantuku,

sekarang aku serahkan kepadanya.

Ia bebas memperlakukan sekehendaknya.’

Si pemuda itu ingat akan rasa rendah dirinya dimasa lalu.

Tapi kini ia telah memperoleh warisan yang demikian besarnya.

Ia bersuka cita telah memperoleh apa yang belum diperoleh sebelumnya.

Demikian pula halnya dengan Sang Buddha.

Karena mengetahui bahwa kami menyenangi hal-hal rendah,

maka Beliau tidak pernah mengatakan:

‘Kalian akan mencapai KeBuddhaan.’

Tetapi Sang Buddha mempertunjukkan kami Jalan Sravaka.

Kemudian Beliau mendorong kami

untuk menceramahkan Jalan Sempurna

agar supaya kami dapat mencapai KeBudhaan.

Kita menerima dan mengikuti petunjuk Sang Buddha.

Kita pun dengan berbagai sebab musabab, perumpamaan

dan istilah menceramahkan Jalan Sempurna.

Putera-putera Buddha yang mendengarkan

dan menerima ajaran-ajaran kami –

Siang dan malam mereka

terus merenungkan dan tekun melaksanakannya.

Saat itu Buddha meramalkan mereka:

‘Dimasa mendatang kalian akan menjadi Buddha.’

Para Buddha membentangkan Dharma sesungguhnya bagi para Bodhisatva.

Bukanlah dibentangkan bagi mereka yang menghendaki Kendaraan Kecil.

Seperti halnya dengan si pemuda miskin.

Meski ia diberi wewenang untuk mengurus harta kekayaan ayahnya,

namun si anak tidak pernah berpikir untuk memanfaatkannya.

Seperti halnya dengan kami.

Meski kami menceramahkan tentang Dharma Sang Buddha,

namun kami sendiri tiada niat untuk memperolehnya.

Mencapai Nirvana Sravaka bagaikan upah sehari,

kami menganggap bahwa itu sudah cukup.

Meski kami mendengar tentang

penyempurnaan Buddhaloka (alam Buddha)

dan tentang pembinaan para mahluk,

kami tiada pernah bersuka cita.

Mengapa? Karena betapapun juga kami merenungkan:

‘Segala perwujudan hanyalah sunyata,

tiada lahir maupun akhir,

tidak besar maupun kecil,

tiada muncul maupun kelakuan.’

Sehingga kami tidak lagi mencurahkan diri

untuk memperoleh Kebijaksanaan Buddha.

Kita menganggap diri sendiri telah mencapai yang mutlak.

Sepanjang malam kita menjalankan 4 KeSunyataan Mulia,

sehingga kami terbebas dari Triloka dan segala penderitaan.

Kini kami berada dalam inkarnasi terakhir.

(Kehidupan terakhir segabai manusia).

Mencapai 4 Kesunyataan Mulia,

kami menganggap bahwa ini sudah cukup,

bahwa kita telah membalas budi agung Sang Buddha

Meski kami menceramahkan tentang Jalan KeBodhisatvaan,

membina putera-putera Buddha mencapai Jalan KeBuddhaan,

namun kami sendiri tiada pernah berkehendak untuk mencapainya.

Oleh karenanya, Sang Buddha membiarkan kami,

karena Beliau mengetahui lubuk hati kami.

Pada semula Sang Buddha tidak mengajarkan

kami yang sesungguhnya (Kendaraan Buddha).

Seperti halnya dengan orang kaya itu.

Ia menyadari pemikiran anaknya yang rendah.

Oleh karenanya, ia dengan cara bijaksana membina anaknya

untuk menerima harta kekayaannya yang melimpah ruah.

Demikian pula dengan Sang Buddha.

Beliau dengan cara bijaksana membina siswa-siswaNya

dan kemudian barulah Ia menguraikan tentang kebijaksanaan Buddha.

Kini kami telah memperoleh apa yang belum kami peroleh sebelumnya;

Apa yang tidak pernah kami harapkan telah datang sendirinya.

Kami seperti si pemuda miskin itu yang

kemudian memperoleh semua harta kekayaan itu.

Yang Maha Agung!

Kini kami telah memperoleh buah Sravaka (Arahat)

dan dengannya mata batin yang tiada cela.

Sepanjang malam kami mentaati sila

yang telah diterapkan oleh Sang Buddha,

sehingga sekarang kami telah mencapai buahnya.

Di tengah-tengah Dharma Sang Buddha,

kami telah kian lama melaksanakan KeBrahmaan;

Kini kami telah memperoleh buah (Arahat) yang tiada cela.

Kini kami sadar bahwa kami sesungguhnya adalah putera Sang Buddha,

dan kami akan membentangkan Jalan Buddha ini kepada segenap mahluk.

Kini kami telah menjadi Arahat yang dipuja dan dimuliakan

oleh para dewata, manusia, iblis, setan dan brahmana.

Sang Buddha dengan penuh welas asih

menerapkan cara bijaksana dalam membina kami.

Siapakah yang dapat membalas budiNya?

Meski mempersembahkan tangan dan kaki kami,

memuliakanNya dengan segala macam persembahan,

belum juga kami dapat membalas budiNya.

Meski mengangkatNya diatas kepala kami,

dan memikulNya diatas pundak kami,

selama banyak kalpa bagaikan pasir-pasir di sungai Gangga,

menyanjung dan menghormatiNya dengan sepenuh hati;

Meski kita mempersembahkanNya dengan

segala macam kelezatan, jubah dan pakian,

perabotan tidur dan obat-obatan;

Membangun untukNya candi-candi dari segala macam permata

yang sekelilingnya ditaburkan jubah dan pakaian permata;

Meski kita memuliakanNya dengan segala persembahan ini

selama banyak kalpa bagaikan pasir-pasir di sungai Gangga;

Belum juga kita dapat membalas budiNya.

Para Buddha memiliki daya kekuaatan gaib

yang tak terbatas, tak terhingga dan tak tertandingi;

Sebagai Raja Dharma, Mereka memaklumi ajaranNya

dengan penuh ketabahan dan kebijaksanaan.

Senantiasa mengajar sesuai dengan apa yang tepat;

Bagi para mahluk yang terjerat pada perwujudan,

Mereka pun mengajar sesuai dengan apa yang tepat.

Para Buddha menceramahkan Dharma sekehendakNya.

Mereka memahami keinginan para mahluk yang beraneka ragam,

serta tujuan dan kemampuannya masing-masing.

Maka dengan berbagai cara bijaksana dan perumpamaan,

Mereka membina dan membimbing segenap mahluk.

Dengan memanfaatkan akar-akar kebajikan

yang telah ditanam oleh para mahluk di kehidupan lampau,

mengamati akar-akar kebajikan masing-masing mahluk,

baik yang sudah matang maupun yang belum,

Para Buddha membentangkan Satu Kendaraan Buddha,

dan sesuai dengan apa yang tepat, menceramahkannya sebagai tiga.